Derap langkah sepatu besi di sunyinya malam
Sebelum mencekik waktu, sempat saja menggumam
Derap langkah sepatu besi di sunyinya malam
Lembayung pagi ia kubur dalam kelam
Tidak ada yang tahu siapa yang berkelana, sayang
Enam pribadi hilang dalam bayang, malang
Hanya terdengar derap sepatu besi, seram
Mata dan mulut disekap diterkam, suram
Showing posts with label poetry. Show all posts
Showing posts with label poetry. Show all posts
Sunday, September 30, 2012
Sunday, August 26, 2012
SEBUAH AKHIRAN
lalu nestapa itu bersayap,
hitam putihnya memudar menjadi pelangi,
dan terbanglah ia ke dunia firdausi,
tak lagi menenteng beban kelabu,
tak lagi memikul derita.
hitam putihnya memudar menjadi pelangi,
dan terbanglah ia ke dunia firdausi,
tak lagi menenteng beban kelabu,
tak lagi memikul derita.
Saturday, August 4, 2012
SAJAK SEORANG PELAJAR
Dalam dunia demokrasi
Tiap hari suguhannya setumpuk teori
Yang mengandung angka dan hafalan tanpa bumbu
Tak boleh berpendapat, tak boleh menggugat
Mata senja telah menyaksikan
Sihir sesendok bubuk putih dan asap maut
Tetapi ia memilih untuk bungkam
Ia hilang mengabdi pada kertas merah
Apa kabar, Ibu Pertiwi
Anak sulungnya telah berempati pada yang mati
Tenang, masih ada pagi dan malam
Pemimpi bernurani takkan pernah terlelap
Tiap hari suguhannya setumpuk teori
Yang mengandung angka dan hafalan tanpa bumbu
Tak boleh berpendapat, tak boleh menggugat
Mata senja telah menyaksikan
Sihir sesendok bubuk putih dan asap maut
Tetapi ia memilih untuk bungkam
Ia hilang mengabdi pada kertas merah
Apa kabar, Ibu Pertiwi
Anak sulungnya telah berempati pada yang mati
Tenang, masih ada pagi dan malam
Pemimpi bernurani takkan pernah terlelap
Friday, July 20, 2012
DEMI TUHAN
“Demi Tuhan yang Maha Esa, ini adalah sabdaNya!”
Dan kemudian jeritan berdarah menggelegar di udara
yang hampa
Mati, semuanya telah mati suri tanpa meninggalkan
identitas
Dalam tangan anak-anak Sang Pencipta yang mengaku
kenal kudus
Tuhan yang merasa terpanggil mengintip dibalik
tirai awan
Menyaksikan kobaran api memangsa karya terbesarNya
Berharap ini hanya mimpi, tapi Tuhan tak pernah bermimpi
Di saat manusia mengambang dalam keserakahan dan
rasa benci,
dengan serentak kitab-kitab dan agama-agama berseru
kepada Tuhan
“Bukan, bukan ini yang kami maksud! Bukan ini yang
kami ajarkan!”
Tuhan memandangi jembatan penelusur dunia fana dan
kekekalan
Masih berangan-angan, masih terlena dalam buaian
angkasa
Thursday, June 28, 2012
JATUH CINTA
Ini semua gara-gara gue masang musikalisasi puisinya Sapardi Djoko Damono yang "Aku Ingin". Gue baru sadar gue belum pernah bikin puisi cinta, so why not give it a shot? But then again, I'm not a romantic person nor do I have any romantic experience hahaha! Tapi nggak ada salahnya lah coba-coba bikin puisi cinta. Sekali-sekali B)
Mohon maaf atas judulnya, gue paling nggak bisa bikin judul.
Aku tahu itu kamu
Yang mengubah tetes hujan menjadi hamparan kelopak bunga mawar
Yang membuat jam segan merenggangkan kedua tangannya
Yang menyihir dinginnya malam menjadi wujud nyatanya kehangatan
Ah, dasar mimpi
Masakan tiap malam aku selalu bertemu denganmu?
Kita berdiri di bawah rindangnya pepohonan taman kota
Bersama mereka yang turut terbuai alunan romansa
Tentu itu menjadi kenangan yang paling manis
Jika kamu bisa merubahnya menjadi kenyataan
Layaknya kamu mengubah musim panas menjadi musim semi untukku;
Musim dimana para pemuda tak bisa berhenti tersenyum
Dan para pemudi tak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya
Mohon maaf atas judulnya, gue paling nggak bisa bikin judul.
Aku tahu itu kamu
Yang mengubah tetes hujan menjadi hamparan kelopak bunga mawar
Yang membuat jam segan merenggangkan kedua tangannya
Yang menyihir dinginnya malam menjadi wujud nyatanya kehangatan
Ah, dasar mimpi
Masakan tiap malam aku selalu bertemu denganmu?
Kita berdiri di bawah rindangnya pepohonan taman kota
Bersama mereka yang turut terbuai alunan romansa
Tentu itu menjadi kenangan yang paling manis
Jika kamu bisa merubahnya menjadi kenyataan
Layaknya kamu mengubah musim panas menjadi musim semi untukku;
Musim dimana para pemuda tak bisa berhenti tersenyum
Dan para pemudi tak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya
Saturday, June 9, 2012
SAKSI BISU
Wahai rembulan
Remukkah hati itu
Ketika engkau menatap cintamu
Yang perlahan hancur dan rusak?
Bagaimana engkau bisa tegar
Menidurkan perang dalam bisu
Sementara kami berseru dengan pedih
Mencari makna sejahtera
Masih maukah dirimu
Membuka mata untuk kami semua
Bila kelak nanti hidup menjadi mati
Dan yang penuh menjadi kosong?
SEBUAH SURAT
Wahai kalian yang kami kasihi,
Dahulu kita tidak mengenal fana
Waktu datang dan pergi tanpa permisi
Layaknya hembusan nafas kehidupan
Kini kita sama-sama belajar
Pertemuan dan perpisahan akan selalu bersama
Sebab kini kita tahu
Bahwa keabadian itu hanyalah sebuah kata
Wahai penghuni Firdaus,
Jiwa-jiwa yang tak lagi mengenal duka,
Apakah tebalnya langit menutupi pesan kami,
yang telah kami bisikkan lewat angin,
dan yang kami tulis di atas bintang?
Seluas itukah angkasa,
sehingga mata demi mata tak lagi bertemu?
Masih adakah ruang untuk kami,
agar perbincangan kita tak lagi diselimuti debu,
dan kenangan tak lagi terbungkus rindu?
Subscribe to:
Posts (Atom)