Sunday, January 12, 2014

SABDA ALAM

Rupanya, alam sudah lama mendengar rinduku
Untuk mendengarkan sabdanya dan memeluk kata demi kata
Demi menghibur pedih yang menyeruak tiap ruang dalam jiwa;
Ruang hampa dingin tak bertuan.

Selama ini, angin berusaha membisikkan suatu pesan
Yang diterjemahkan oleh caya angkasa siang pun malam
Tapi aku ini terlalu bodoh, arogan
Hatiku terletak hanya pada materi dan akal pada hedonisme
Aku lupa bahwa selama ini, harta abadi yang dicari umat manusia
Tidak berwujud, tidak bernominal dan tidak dapat dihancurkan waktu

Gusti, ajari aku agar kiranya aku dapat
Menemukan aksara yang merambat begitu dalam
Ke jantung bumi juga kulit-kulitnya
Agar aku dapat mengecap buahnya yang termanis
Dan kekallah jiwaku dalam kedamaian, juga buaian kasihMu

YANG PERTAMA

Ah, aku jadi ingat
Cinta pertamaku yang bersemayam di sirat matamu
Barangkali waktu sudah menggerogoti kenangan itu dari dirimu
Tapi aku yang dulu belajar mencinta masih ingat betul

Mungkin di ujung sana, jauh dari tempatku berpijak
Kau sudah menemukan jiwa yang hilang itu, jiwa yang lama kau cari
Atau kau masih mencari di tiap sudut, mengintip dengan penuh harap
Aku selalu mendoakanmu agar semesta memberimu yang terbaik

Aku tidak mengharapkan sosokmu kembali
Sebab ku tahu, aku ini bukanlah yang nuranimu kehendaki
Bolehlah kau caci-maki aku dengan beragam istilah
Tapi beribu terima kasih ingin kuucapkan,
Karena bunga pertama yang tumbuh subur di taman ini
Menjalar dan menggelitik berbagai misteri cinta
Atas namamu, yang baik hati

Kini, setelah sekian lama, aku pun memutuskan untuk turut mencari
Seseorang yang bisa kuajak menanggung dunia hingga akhirat
Tapi ketahuilah ini, bahwa siapapun yang takdir bawakan untukku
Kau tetaplah fondasi, prolog dari bab-bab berikutnya
Biarlah kau lupa, menjadikanku tak beridenditas
Tapi jejakmu akan selamanya membekas

Saturday, December 29, 2012

MIMPI DI BULAN DESEMBER

Yang kusayang,

Kutahu kamu masih tertidur nyenyak di belahan dunia sana. Tidurlah, bermimpilah. Jika kamu bertemu diriku disana, ajaklah dia berpetualang dalam mimpimu. Sudah lama benar rindu itu bercengkrama disana, di hatinya. 

Kuharap kamu memiliki sedikit waktu untuk membaca surat ini pagi nanti. Kamu tahu, aku sangat suka bertutur kata mengenai apa saja, mulai dari keseharianku sampai teori-teori asal yang kuciptakan dalam rasa bosan. Terkadang kamu hanya bisa mengangguk dalam diam ketika mendengarkanku. Tapi tidak masalah, itulah yang kurindukan dari dirimu. Seorang yang penyayang dan hangat, pendengar yang bijaksana. 

Disini sudah hari Sabtu, dan aku terbangun pada pukul 6 pagi tadi. Terbangun tanpa ada yang membangunkan. Melepaskan pejaman mata dalam suasana kamar yang redup dan sunyi. 

Apa? Mengapa? Aku menata ulang gambar-gambar yang berlalu lalang dalam alam bawah sadar tadi malam. Beberapa bagian telah lenyap bersama dengan hembusan nafas dan dengkuranku. Tapi aku masih menyimpan sisanya sambil bertanya-tanya, "pertanda apakah ini?"

Gaduh sekali suasana tadi malam, meskipun tak ada yang berkata-kata dalam kamarku. Bahkan aku hanya bisa bungkam selagi menengok kiri-kanan, mengejar gambar-gambar yang saling bertubrukan di balik pelupuk mata. 

Segerombolan anak-anak muda berseragam tentara berkeliaran di sepanjang jalan. Seragam mereka berwarna biru samudera, dan nampak dengan jelas sekali butiran-butiran salju yang terjatuh dan melekat pada bahu mereka, tapi tak ada satupun yang menggigil. Mereka semua adalah pemuda-pemudi yang begitu gagah. 

Aku menyaksikan dari balik pilar milik suatu monumen tua yang megah. Disana, aku berdiri bersama anak-anak muda lainnya. Jelas sekali emosi membakar diri mereka, sehingga mereka segera bergegas dan menyiapkan seragam-seragam coklat muda yang terlipat dengan rapi di dalam rak. Dan jangan lupa... senjata api! Sia-sialah kobaran semangatmu tanpa benda itu (yang kini dipertanyakan kegunaan dan keuntungannya). 

"Jangan ikut mereka," seorang wanita muda berusia sekitar 25 tahun menghampiriku dengan cemas. Ia tampak sangat keibuan dan cantik, mungkin merupakan sosok yang sempurna bagimu. "Mari, ikut aku."

Ia membawaku ke suatu kamar, barangkali dulunya merupakan kamar asrama karena aku melihat beberapa tempat tidur putih polos terletak disana. Atau mungkin... sesungguhnya tempat itu adalah pengungsian? 

Tak lama kemudian seluruh benda di kamar itu bergetar hebat. Aku beranjak ke depan jendela dengan langkah yang tertatih-tatih. Kamu pasti bisa membayangkan apa yang kulihat disana. Bola-bola api. Jejak sepatu para pemuda. Darah. Salju yang tadinya nampak putih suci telah diterjang lautan amarah. 

"Mereka tak layak hidup! Hidup bukan untuk mereka!" Seorang pemudi berseragam coklat berseru di atas tumpukan kayu. Kawan-kawannya menyahut dengan serentak. Ia mengeluarkan busur panah dan  tidak segan-segan memanahi para lawannya yang hendak menyerang. Tubuh mereka terhempas di atas salju tanpa daya. Hidup bukan untuk mereka...

Ketika lautan amarah itu telah surut, aku memberanikan diri untuk menyaksikan keadaan di luar. Ya, manusia-manusia tanpa nyawa ada dimana-mana. Di bawah pohon beku, aku melihat 4 sosok anak muda berkuda; dua di antaranya terlihat lebih tua (barangkali seumuran denganmu) dan sisanya nampak masih terlalu muda untuk mengenal maut. Tadinya aku berpikir untuk menguburkan mereka, namun salju sudah terlebih dahulu mengambil alih. Sebelum aku beranjak pergi, pohon beku itu rubuh dan menimpa salah satu anak beserta kudanya, seakan-akan ingin membalas dosanya pada hari itu. Tapi, apakah benar ia telah berdosa?

Itulah kisahku pada saat ini. Kuharap surat ini tidak membuat musim dingin terasa jauh lebih menusuk. Aku tahu kamu masih berbaring dalam lelap di belahan dunia sana. Bermimpilah yang indah. Bila kamu bertemu dengan sosokku disana, ajaklah dia menikmati mimpimu yang tenang itu. Ia butuh liburan dari alam bawah sadar yang rusuh. 

Sunday, November 11, 2012

CENDRAWASIH


Sebelum kutuang lebih banyak kata pada sehelai kertas ini, yang kiranya telah mengorbankan hidupnya demi sketsa ataupun rancangan kalimat penuh makna dan pengetahuan, aku ingin memberitahu kalian terlebih dahulu bahwa akal budi itu berasal dari kata-kata bijak, yang dilahirkan dari pikiran seseorang, yang terinspirasi dari apa yang ia lihat ataupun apa yang ia dengar.

Kukira kebanyakan dari kita akan menyusun paling tidak satu kata ketika mereka melihat atau mendengar sesuatu. Kata-kata itu akan menghadapi nasib yang berbeda-beda; beberapa akan disimpan dengan baik di dalam benak para manusia, beberapa akan bertemu dengan rancangan kata-kata lain agar menjadi suatu karya yang penuh hikmah, beberapa akan disimpan dalam kurun waktu tertentu sebelum dilupakan dan hilang, beberapa akan diabaikan begitu saja, bahkan sebelum ia sempat mempelajari ruang pikiran yang terletak di dalam kepala manusia.

Inilah yang kudapatkan setelah melewati belasan tahun hidup dengan telinga yang terus mendengar, mata yang terus melihat, dan pikiran yang tak pernah mau diajak beristirahat. Tapi ujung-ujungnya, sebagian hal yang telah aku pelajari hilang begitu saja, entahlah bagaimana nasib mereka.

Meskipun demikian, tentu aku tidak akan pernah melupakan hal yang satu ini. Aku memanjatkan syukur pada Tuhan karena kiranya aku bisa berhasil mengingat untaian kalimat ini, yang berasal dari suatu gambar, yang berasal dari kampung halamanku, tempat dimana aku menyusun masa kecil dan ilmu pengetahuan moral.

Kampung halamanku ini disimbolisasikan dengan sesosok burung megah nan ayu, yang tak lagi asing bagi masyarakat luas. Masyarakat kita menyebutkannya Cendrawasih, dan orang-orang Barat menjulukinya Paradise Birds yang berarti ‘burung-burung Firdausi’. Nampaknya mereka patut mendapatkan gelar itu, karena ekor-ekor mereka membawa serta berkas-berkas matahari senja, dan bulu-bulu mereka yang berwarna cokelat-tembaga seakan ingin mengingatkan kita akan betapa kaya dan indahnya habitat mereka, meskipun terpencil dan terlupakan.

Namun, terlupakan pun bukan menjadi halangan bagi ancaman-ancaman untuk merenggut keelokan para penghias hutan belantara ini. Dari sinilah aku sadar akan suatu hal mengenai mereka; mereka merupakan cerminan dari hidup itu sendiri. Layaknya hidup, tentu sudah tak ternilai keindahan yang mereka bawa serta ketika merintis pilar-pilar alam yang menaungi kehidupan di dalamnya. Layaknya hidup, mereka dihadiahi sepasang sayap untuk terbang bebas seraya menikmati buaian angin timur di cakrawala. Layaknya hidup, hidup mereka tak juga luput dari bahaya yang kian mengintai. Pada akhirnya, beberapa dari mereka bisa bertahan hidup, beberapa yang lain mati suri di depan senjata berasap, dan sisanya terperangkap dalam kandang yang entah kapan akan dibuka kembali. Akibat senjata-senjata ini, jumlah mereka kian lama kian berkurang, dan mungkin pada suatu saat nanti, tak akan ada yang pernah bisa melihat lagi sosok mereka yang berupa potongan-potongan surga. Burung Cendrawasih hanya tinggal pertanyaan, bukan lagi wujud yang bernafas dan berperasaan. 

Semuanya itu sungguh mirip dengan siklus hidup kita sebagai manusia. Kita telah dianugerahi hidup yang begitu surgawi dan tak ternilai harganya. Kita telah diberikan kebebasan untuk memilih, dan kebebasan untuk mengecap kebahagiaan yang absolut. Tapi kemudian, kita memilih untuk diperbudak oleh gejolak egoisme, dan mengatasnamakan kesejahteraan pada rancangan-rancangan sistem yang seringkali tidak adil dan serakah. Lalu, semua ini mengakibatkan suasana tak aman dimana-mana. Berbagai kisah mengerikan telah kita dengar dari seluruh penjuru dunia. Lalu kita tiba pada pemikiran bahwa semua ini adalah nasib. Kemudian kita terus berpikir, bahwa inilah nasib yang telah Tuhan rancang untuk kita, dan pada akhirnya beberapa dari kita diam dalam kepasrahan, dan beberapa yang lain mengutuk Sang Pencipta. Ketika tahun terus bergilir, generasi masa depan yang kita besarkan nanti akan hidup tanpa tahu apa itu kebebasan. Begitulah kondisi hidup kita, saat ini. 

Jika manusia tidak pernah menciptakan senjata atas nama apapun, burung-burung cendrawasih itu masih bisa berkeliaran dengan bebas dan penuh pesona, tanpa rasa gentar akan ancaman yang merenggut hak kebebasan mereka.

EYANG

Beliau duduk di seberang sana sambil melanturkan keheningan,
Melambaikan tangan keriputnya pada siapapun yang melintas
Barangkali beliau ditemani secangkir teh hangat,
yang diletakkannya di atas meja kayu berukir antik

"Selamat sore, eyang!" Sapaan yang kerap aku lontarkan pada beliau
Yang lagi-lagi ditanggapi dengan lambaian dan lengkung senyuman
Tetapi ketika mata kami bertemu untuk saling tegur sapa,
disitulah aku mengenal suatu sosok yang sesungguhnya tidak pernah hening

Jiwa yang beliau pantulkan lewat kedua mata tua nan bijaknya
Memiliki karakteristik yang serupa dengan milikku saat ini
Sebagai sesosok orang muda yang tak kunjung pintar,
namun sekiranya menikmati apa yang ia lihat, dengar, dan alami

Dan pada saat itulah aku tahu
Apa yang ia sembunyikan dalam benaknya
Bukanlah keluhan atas rasa sakit akibat usianya
Ataupun rasa kesal atas pikirannya yang mulai pikun
Ataupun helai-helai rambutnya yang memutih
Ataupun tangannya yang kian lama makin bergetar

Aku menemukan beberapa potong kenangan manis dari sana;
Gambaran dunia dalam sisi pandang seorang anak,
Gejolak jiwa seorang pemuda pada masa-masa sekolah,
Juga semerbak kasih orangtua pada anak serta menantu dan cucunya

Kini aku sadar,
Bahwa sikapnya yang diam itu
Merupakan seruan pada Tuhan bahwa ia sudah tenang dan bahagia
Dan ia begitu bersyukur atas hiasan yang ada pada pikirannya

Dan ketika mata kami bertemu untuk saling tegur sapa di sore hari itu,
Pada saat itulah aku sadar
Bahwa dalam diam, ia melontarkan berpuluh-puluh pesan padaku,
yang sekarang kutuang dalam puisi ini
untuk mengenang beliau yang sudah berpindah dunia

Sunday, September 30, 2012

SEPTEMBER 1965

Derap langkah sepatu besi di sunyinya malam
Sebelum mencekik waktu, sempat saja menggumam
Derap langkah sepatu besi di sunyinya malam
Lembayung pagi ia kubur dalam kelam

Tidak ada yang tahu siapa yang berkelana, sayang
Enam pribadi hilang dalam bayang, malang
Hanya terdengar derap sepatu besi, seram
Mata dan mulut disekap diterkam, suram

Thursday, August 30, 2012

SAIJAH DAN ADINDA


"Ya, aku mau dibaca! aku mau dibaca oleh negarawan-negarawan yang berkewajiban memperhatikan tanda-tanda zaman; - oleh sastrawan-sastrawan yang juga harus membaca buku itu yang begitu banyak dijelek-jelekkan orang…; - oleh anggota-anggota perwakilan rakyat yang harus mengetahui apa yang bergolak dalam kerajaan besar di seberang lautan, yang adalah sebagian dari kerajaan Belanda… Maka akan kuterjemahkan bukuku dalam bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Alifuru, Bugis, Batak…”


Tentu “Max Havelaar” tak lagi asing bagi kebanyakan, apalagi siswa-siswi yang baru saja belajar sejarah di sekolahnya. Tapi adakah dari mereka pernah benar-benar memegang buku itu dan pada akhirnya, lewat buku itu, mengenang suatu masa yang belum pernah mereka hadiri; masa penderitaan hebat negara ini yang berujung pada kebebasan, kebebasan yang dapat kita nikmati saat ini?

Saya sendiri baru menduduki kelas 3 SMA, dan masih ingat bahwa judul buku itu pernah diungkit dalam suatu pelajaran sejarah ketika saya masih duduk di bangku SD. Tapi tak pernah sekalipun ada yang berkata bahwa buku itu begitu berharga, dan bahkan dianggap sebagai salah satu faktor hilangnya sistem kolonial. Maka dari itu tak dapatlah disalahkan jika taka da dari kami yang memiliki rasa penasaran begitu kuat terhadap isinya. Saya hampir lupa akan judul itu, hingga beberapa minggu yang lalu.

Jika Guru Bahasa Indonesia saya tak berkata satu patah kata pun mengenai kehadiran buku itu di perpustakaan kami, saya tak akan pernah tahu. Ketika saya berhasil memilikinya untuk selang waktu tiga minggu, waktu yang begitu singkat dan sesungguhnya tak cukup untuk menggarap seluruh babnya, saya melihat tahun percetakannya. Tahun 2000. Sungguh lama, mengingat sekarang sudah tahun 2012. Dan ironis jika dibayangkan lebih dalam lagi, sebab menurut keterangan Guru saya, buku ini adalah buku wajib baca bagi siswa-siswi negara asal Douwes Dekker yang juga negara eks penjajah. Ya, Belanda.

Sedangkan disini? Adakah pernah?

Baiklah, tak akan saya lanjuti, sebab saya tidak tahu dimana letak kesalahan yang membuat karya ini seakan-akan hilang. Atau barangkali, karya itu masih dibisikkan, hanya saja saya yang terlalu sibuk menata rumus dan teori untuk melaju ke tingkat pendidikan berikutnya.

Max Havelaar ditulis oleh Multatuli (alias Douwes Dekker), seorang yang cinta kejujuran, sebagaimana ia ungkapkan dalam pengantar buku itu. Multatuli sendiri memiliki arti “aku telah banyak menderita”. Ia mempersembahkan buku yang ia tulis dalam hidup kemiskinannya kepada raja Belanda Willem ketika dan Kaisar kerajaan Insulinde.

Sayang sekali saya tak mampu membaca seluruh isi Max Havelaar oleh karena kekurangmampuan saya menggarap selembar halaman pun dalam waktu singkat (barangkali karena tingkat sastranya yang tinggi), sehingga sampai sejauh ini saya baru melewati beberapa dari sekian banyak bab. Tapi ada satu bab yang begitu memikat perhatian saya, barangkali karena keindahan sajak-sajaknya dan alurnya yang memilukan. Bab itu tak lain lagi merupakan episode Saijah dan Adinda.

Oleh sebab itu, mumpung buku itu masih saya letakkan persis di sebelah laptop kepunyaan saya, akan saya bagikan sepotong isi buku itu yang begitu indah dan mengharukan, yakni kisah “Saijah dan Adinda”. Kisah ini merupakan gugatan Multatuli yang dibungkus gaya roman nan indah, dan saya percaya inilah yang dapat membuat generasi kini dan nanti mengenang penderitaan begitu hebat yang pernah melanda negeri mereka. Saya tidak ingin karya itu hilang begitu saja, terlupakan dan terkubur zaman. Saya ingin karya itu tetap abadi, sebab Multatuli sendiri berkata dengan lantang dalam suatu lembaran di bukunya, “Aku mau dibaca!”

Ayah Saijah mempunyai seekor kerbau ; dengan kerbau itulah ia mengerjakan sawahnya. Ketika kerbau itu dirampas oleh kepala distrik Parangkujang, ia sangat bersedih hati, ia tidak berkata sepatah kata, berhari-hari lamanya. Sebab sebentar lagi tiba musim membajak, dan ia kuatir kalau tidak cepat ia mengerjakan sawah, waktu menyemaipun akan terlewat, dan akhirnya tidak ada padi yang akan dipotong untuk disimpan di dalam lumbung rumah.

Pelu saya jelaskan kepada pembaca yang menenal Jawa, tapi tidak mengenal Banten bahwa di residensi itu ada hak milik tanah pribadi, sedang di tempat lain tidak ada. Maka ayah Saijah pun sangat prihatin. Ia kuatir isterinya akan kekurangan beras, dan juga Saijah yang masih kecil, dan adik-adiknya laki dan perempuan.

Pun mungkin kepala distrik akan mengadukannya kepada asisten residen, jika ia terlambat membayar pajak tanah, sebab bisa dihukum menurut undang-undang. Lalu ayah Saijah mengambil keris pusaka warisan ayahnya. Keris itu tidak begitu bagus, tapi sarungnya berikat perak, dan diujung sarung itu ada pula pelat perak. Dijualnya keris itu kepada kepada seorang Cina yang tinggal di ibukota, dan ia pulang ke rumah dengan 24 gulden; dengan uang itulah ia membeli seekor kerbau lagi.

Saijah, yang kira-kira waktu itu kira-kira berusia tujuh tahun, segera bersahabat dengan kerbau baru itu. Bukan tanpa maksud saya mengatakan : bersahabat ; - sebab sungguh mengaharukan jika kita melihat betapa senang kerbau jawa itu dengan anak kecil, yang menjaga dan memeliharanya. Mengenai rasa senang kerbau itu nanti akan saya beri contoh yang bukan khayalan. Binatang yang besar dan kuat itu menggerakkan kepalanya yang berat itu ke kanan atau ke kiri atau ke bawah menurutkan tekanan jari si anak itu, yang dia kenal, dia mengerti, dengan siapa ia besar bersama-sama.

Memang Saijah kecil mempunyai rasa persahabatan yang sangat besar sehingga pendatng baru itu segera merasakannya, dan suara kanak-kanak Saijah yang menggalakkannya itu seolah-olah memberi lebih banyak tenaga kepada pundak yang kukuh dari binatang yang kuat itu, apabila ia membelah tanah liat yang padat, dan meninggalkan bekas bajakan yang dalam dan tajam. Kerbau itu dengan patuh berbalik, bila ia tiba di ujung ladang dan tidak seincipun tanah yang dilangkauinya ketika kembali membajak alur yang baru, yang selalu berhampiran dengan yang sebelumnya, seakan-akan sawah itu tanah kebun yang digaruk oleh gergasi.

Di sebelahnya terbentang sawah-sawah ayah Adinda, ayah gadis yang akan kawin dengan Saijah ; dan bila adik-adik adinda datang, di batas antara sawah-sawah mereka, justru jika juga Saijah ada disana dengan bajaknya, merekapun berseru gembira yang satu kepada yang lain, dan memuji atas mengatasi kekuatan dan kepatuhan kerbaunya. Tapi saya kira kerbau Saijahlah yang paling baik, barangkali juga karena Saijah pandai menegornya, lebih pandai dari orang lain, dan kerbau sangat peka terhadap tegoran yang baik. Saijah sudah sembilan tahun dan Adinda enam tahun, ketika kerbau itu dirampas dari ayah Saijah oleh kepala distrik Parangkujang. Maka ayah Saijah yang amat miskin, menjual kepada seorang Cina dua penggait kelambu,- barang pusaka mertuanya, - laku 18 gulden ; dan dengan uang itu dibelinya seekor kebau lagi.

Tapi Saijah sedih sekali. Sebab ia mendengar dari adik-adik Adinda bahwa kerbau yang sebelumnya dibawa ke ibukota, dan ditanyakannya kepada ayahnya apakah ia tidak melihat kerbau itu ketika ia pergi ke sana untuk menjual penggait kelambu. Ayah Saijah tidak mau menjawab pertanyaan itu. Karena itu ia kuatir kerbaunya itu telah disembelih, seperti kerbau-kerbau lain yang dirampas oleh kepala distrik dari penduduk. Dan Saijah menangis dan menangis bila ia teringat kerbau yang malang itu, pergaulannya yang akrab dengannya dua tahun lamanya ; dan ia tidak dapat makan, lama ia tak dapat makan, sebab kerongkongannya terasa sempit bila ia menelan. Kita harus ingat bahwa Saijah masih anak-anak.

Kerbau yang baru itu mulai mengenal Saijah, dan segera menggantikan kerbau terdahulu dalam hatinya. Terlalu cepat sebenarnya, sebab, aduhai, kesan-kesan lilin di dalam hati kita begitu mudah hapus digantikan tulisan kemudian. Betapapun juga, sekalipun kerbau baru itu tidak begitu kuat seperti yang sebelumnya, sekalipun gandar yang lama terlalu lebar untuk pundaknya, tapi binatang yang malang itu patuh seperti yang terdahulu yang sudah disembelih ; dan meskipun Saijah tidak dapat lagi membanggakan kekuatan kerbaaunya, waktu bertemu adik-adik Adinda di perbatasan, namun ia mengatakan tidak ada yang lebih unggul dari kerbaunya dalam hal kemauan baik ; dan bila alur tidak begitu lurus seperti yang terdahulu, atau bila ada gumpal-gumpal tanah yang terlewat tanpa di bajak, dengan senang hati ia mencangkulnya dengan pacul, sebisa-bisanya. Lagi pula tidak ada kerbau yang punya user-useran seperti kerbaunya. Penghulu sendiri mengatakan bahwa kerbau itu membawa untung, karena ada sesuatu yang istimewa dalam jalan user-useran di pundak bagian belakangnya.

Sekali di tengah padang Saijah sia-sia menyeru kerbaunya untuk bergesa. Binatang itu berdiri tanpa bergerak. Saijah, kesal karena ia begitu membangkang,- tidak biasa binatang itu membangkang demikian, - tidak dapat menahan diri dan mengeluarkan kata-kata yang menghina. Katanya ; a.s .Tiap orang yang pernah ke Hindia mengerti apa maksudnya ; dan barangsiapa yang tidak mengeti , beruntung jika saya tidak menerangkan ucapan yang kasar itu.

Tapi Saijah tidak bermaksud buruk dengan kata-katanya itu. Dia hanya mengatakannya, karena ia sering mendengar orang lain mengatakannya, jika mereka tidak senang. Tapi ia tidak perlu mengatakannya sebab sia-sia belaka ; kerbau itu tidak beranjak selangkahpun. Ia menggelengkan kepala seolah-olah hendak melemparkan gandarnya, nafasnya nampak keluar dari lubang hidungnya ; ia mendengus, gemetar, matanya yang biru nampak penuh ketakutan, dan bibirnya sebelah atas tertarik ke atas hingga gusinya kelihatan.

“Lari, lari, Saijah”, teriak adik-adik Adinda, “lari ada macan!”.

Dan semuanya melepaskan gandar kerbaunya, mereka melompat ke atas punggung-punggung kerbau yang lebar itu, dan mencongklang melalui sawah, galangan, menempuh lumpur, hutan belukar dan alang-alang, melalui lebuh dan padang, dan ketika mereka mendudu masuk ke desa Badur, penuh keringat, Saijah tidak ada bersama mereka.

Sebab setelah ia melepaskan gandaran kerbaunya, dan naik ke atas punggungnya untuk lari seperti kawan-kawannya, suatu loncatan tiba-tiba membuat ia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah. Harimau itu sudah dekat sekali…

Kerbau Saijah, terbawa oleh kecepatannya sendiri, terlewat beberapa loncatan dari tempat dimana tuan kecilnya menunggu maut. Oleh kecepatannya sendiri, bukan dengan kemauannya sendiri binatang itu melewati Saijah, sebab baru saja ia mengalahkan gaya pendororng yang menguasai segala benda, juga sesudah tidak ada lagi musabab yang mendorongnya,- diapun berbalik, ia berdiri di atas kakinya yang umbang, tubuhnya yang umbang di atas anak itu , melindunginya dan dengan kepalanya yang bertanduk ia menghadapi macan itu. Binatang buas itu melompat, tapi ia melompat untuk penghabisan kalinya. Kerbau itu menyambutnya dengan tanduknya, ia hanya kehilangan sedikit daging pada lehernya kena cakar oleh macan itu. Macan itu terkapar di tanah dengan perut terbuka, dan Saijah selamat. Memang user-useran kerbau itu membawa untung ! .

Ketika kerbau itu dirampas dari ayah Saijah dan disembelih… Saya telah katakan, pembaca, bahwa cerita saya menjemukan.

Ketika kerbau itu disembelih, Saijah sudah berumur 12 tahun, dan Adinda sudah pandai menenun sarung, dibatiknya dengan kepala tajam. Dia sudah memasukkan pikiran dalam tabung cantingnya, dan digambarnya dukacita pada kain yang ditenunnya, sebab dilihatnya Saijah bermuram durja.

Pun ayah Saijah bersedih hati, tapi lebih-lebih lagi ibunya. Dialah yang menyembuhkan luka di leher binatang yang setia itu, yang membawa anaknya pulang dengan selamat ; mendengar berita dari adik-adik Adinda ia mengira bahwa anaknya telah dibawa lari oleh harimau itu. Sering-sering ia melihat luka itu dan ia berpikir alangkah dalamnya cakar itu masuk ke dalam urat-urat kasar kerbau itu, sedalam itulah cakar itu sedianya masuk ke dalam tubuh lenbut anaknya dan setiap kali bila ia menaruh daun-daunan yang baru pada luka itu, dielus-elusnya kerbau itu, diucapkannya kata-kata yang mesra, sehingga mestinyalah binatang yang baik dan setia itu mengetahui betapa besar terima kasih seorang ibu. Kemudian ia ingin hendaknya kerbau itu mengerti juga kata-katanya, sebab jika demikian tentu kerbau itu juga mengerti mengapa ia menangis, ketika ia dibawa untuk disembelih, dan tentu kebau itu mengetahui bukanlah ibu Saijah yang menyuruhnya disembelih.

Beberapa waktu sesudah itu ayah Saijah melarikan diri dari desanya, sebab ia takut sekali dihukum jika tidak membayar pajak tanahnya, dan ia tidak mempunyai harta pusaka lagi untuk pembeli kerbau yang lain ; orang tuanya seumur hidupnya tinggal di Parangkujang, karena itu sedikit sekali meninggalakan warisan. Pun kedua mertuanya seumur hidupnnya tinggal di distrik yang sama. Tapi sesudah kehilangan kerbaunya yang terakhir ia masih bertahan beberapa tahun dengan bekerja mempergunakan kerbau sewaan, tapi pekerjaan itu sangat tidak menyenangkan, dan terutama menyedihkan bagi orang yang pernah memiliki kerbau sendiri. Ibu Saijah meninggal karena dukacitanya ; dan ketika itulah ayahnya dalam saat putus asa menghilang dari Banten untuk mencari pekerjaan di daerah Bogor. Tapi ia dihukum dera dengan rotan, karena meninggalkan Lebak tanpa pas, dan ia dibawa kembali oleh polisi ke Badur. Ia dimasukkan ke dalam penjara karena dianggap gila, dan saya kira memang demikian, dan karena orang kuatir bahwa ia kana mata gelap dan mengamuk, atau melakukan kesalahan lain. Tapi ia tidak lama dalam penjara, sebab tidak lama sesudah itu ia mati. Apa jadinya dengan adik-adik Saijah saya tidak tahu.

Rumah kecil yang mereka diami beberapa waktu kosong, dan tidak lama kemudian roboh, karena hanya terbuat dari bambu dan memakai atap. Sedikit debu dan kotoran menutupi tempat dimana pernah orang mengalami begitu banyak penderitaan. Banyak tempat-tempat semacam itu di Lebak.

Saijah sudah 15 tahun ketika ayahnya berangkat ke Bogor. Ia tidak ikut serta dengan ayahnya sebab ia mempunyai rencana-rencana yang lebih besar. Ia mendengar bahwa di Betawi banyak tuan-tuan tanah yang naik bendi, jadi mungkin baginya mudah mendapatkan pekerjaan sebagai kacung bendi ; untuk itu biasanya dicari seorang yang masih muda dan belum dewasa supaya kendaraan dua roda itu tidak kehilangan keseimbangan karena terlalu berat dibelakang.

Dia akan banyak mendapat uang, demikian kata orang, jika tingkah lakunya baik dalam pekerjaan demikian itu ; barangkali ia dengan cara itu dalam tiga tahun dapat menyimpan uang, cukup untuk membeli dua ekor kerbau. Pikiran ini menarik baginya. Dengan langkah yang gagah seperti langkah orang yang besar cita-citanya, ia masuk ke rumah Adinda sesudah keberangkatan ayahnya, dan kepada Adinda ia menceritakan rencananya.

“Bayangkan, katanya, jika aku kembali, kita sudah cukup umur untuk kawin. Dan kita akan memiliki dua ekor kerbau !”. “Baik sekali, Saijah. Aku ingin kawin dengan kau jika kau telah kembali. Aku akan memintal, dan menenun sarung dan selendang, dan aku akan membatik, dan bekerja rajin sekali selama itu”.

“O, aku percaya Adinda, tapi… bagaimana jika aku kembali dan kau telah kawin?”

“Saijah, kau tahu bahwa aku tidak akan kawin dengan orang lain; ayahku telah berjanji dengan ayahmu mengenai diriku.”

“Dan kau sendiri?”

“Aku akan kawin dengan kau, percayalah.”

“Bila aku pulang, aku akan berseru dari jauh…”

“Siapa akan mendengarmu jika kami sedang menumbuk padi di desa?”

“Benar juga, … tapi, Adinda, … o ya aku mendapat pikiran yang lebih baik;  … tunggulah aku di hutan jati, di bawah ketapang di mana kau memberiku kembang melati.”

“Tapi Saijah, bagaimana aku tahu bila aku harus pergi menunggumu di bawah ketapang?”

Saijah berpikir sejenak, lalu berkata:

“Hitunglah jumlah bulan. Aku akan pergi tiga kali dua belas bulan, … bulan ini tidak terhitung; … lihat, Adinda, buatlah garis pada lesungmu pada tiap bulan baru. Sesudah cukup tiga kali dua belas garis, sehari sesudah itu aku akan dating di bawah ketapang; … berjanjilah bahwa kau akan menungguku di sana.”

“Ya, Saijah, aku akan menunggu di bawah ketapang di hutan jati jika kau kembali.”

Lalu Saijah menyobek secarik dari ikat kepalanya yang biru, ikat kepalanya yang lusuh, dan diberikannya kepada Adinda agar disimpannya sebagai petaruh; lalu iapun meninggalkannya, dan meninggalkan Badur.

Berhari-hari ia berjalan. DIlewatinya Rangkas Betung yang beum lagi menjadi ibukota Lebak, dan Warung Gunung di mana tinggal asisten residen, dan keesokan harinya ia tiba di Pandeglang yang letaknya seperti di dalam taman. Sehari lagi kemudian ia tiba di Serang dan kagum melihat keindahan kota yang begitu besar dengan banyak rumah-rumah yang terbuat dari batu, atapnya dari genteng merah. Saijah belum pernah melihat yang seperti itu. Di situ ia tinggal sehari karena letihnya, tapi malam hari dalam udara yang sejuk ia meneruskan perjalanan dan tiba di Tangerang keesokan harinya sebelum bayangan turun sempai ke bibirnya, meskipun ia memakai tudung besar peninggalan ayahnya.

Di Tangerang ia mandi di sungai dekat penyebrangan, dan ia istirahat di rumah kenalan ayahnya yang mengajari dia bagaimana menganyam topi jerami, seperti yang didatangkan dari Manila. Sehari ia tinggal di sana untuk mempelajarinya. Sebab pikirnya, mungkin ia kemudian dapat mencari wang dengan kepandaiannya itu, jika sekiranya ia tidak berhasil di Betawi. Keesokan harinya menjelang malam ketika udara mulai sejuk, ia mengucapkan banyak terima kasih kepada orang yang menjamunya, dan melanjutkan perjalanan. Ketika sudah gelap sekali, supaya tidak kelihatan oleh siapa-siapa, dikeluarkannya daun tempat ia menyimpan melati yang diberikan Adinda kepadanya di bawah pohon ketapang, sebab ia merasa sedih bahwa ia tidak akan melihatnya dalam waktu sekian lama. Hari yang pertama, dan demikian pula hari yang kedua, ia tidak begitu merasakan betapa ia hidup sebatang kara, karena jiwanya seluruhnya dipenuhi oleh pikiran yang besar akan mencari wang untuk membeli dua ekor kerbau; bukankah ayahnya sendiri tidak pernah memiliki lebih dari seekor? Dan pikirannya terlalu tertuju kepada pertemuan kembali dengan Adinda, sehingga tidak ada tempat untuk bersedih hati atas perceraian itu. Waktu berpisah ia penuh harapan, dan dalam pikirannya ia mengaitkan perpisahan itu kepada saat pertemuan kembali di bawah ketapang. Sebab begitu besar peranan harapan bertemu kembali dalam hatinya, sehingga ketika meninggalkan Badur, ia merasa girang dalam dirinya ketika melewati pohon itu, seolah-olah waktu yang tiga puluh enam bulan itu sudah silam, waktu yang memisahkannya dari saat itu. Rasanya seolah-olah ia hanya perlu berbalik, seolah-olah ia sudah kembali dari perjalanan, untuk melihat Adinda, yang menunggunya di bawah pohon itu.

Tapi semakin jauh ia berjalan dar Badur, semakin panjang rasanya waktu sehari, semakin panjang dirasanya waktu tiga puluh enam bulan yang masih harus dijalaninya. Ada sesuatu dalam jiwanya yang membuat ia melangkah tidak begitu cepat, … ia merasakan dukacita pada lututnya; dan meskipun bukan putus asa apa yang dirasakannya, namun itu adalah kerawanan yang tidak jauh dari putus asa. Ia teringat akan kembali, tapi apa kata Adinda jika hatinya sekecil itu?

Karena itu ia berjalan terus meskipun tidak begitu cepat seperti hari yang pertama. Melati di tangannya berkali-kali dibawanya ke dadanya. Ia sudah menjadi lebih tua dalam tiga hari itu, dan ia tidak mengerti lagi betapa tenang ia hidup dahulu, ketika Adinda begitu dekat kepadanya dan ia dapat melihatnya setiap kali ia mau. Sebab sekarang ia tidak akan tenang sekiranya ia boleh mengharapkan bahwa Adinda tiba-tiba berdiri di depannya. Dan juga ia tidak mengerti mengapa ia sesudah berpisah tidak berbalik sekali lagi untuk menatap Adinda sekali lagi. Malahan ia teringat bagaimana belum lama berselang ia bertengkar dengannya mengenai tali yang dipintalnya untuk layangan adik-adiknya; tali itu putus karena ada kesalahan dalam pintalannya, sehingga mereka kalah dalam pertandingan melawan anak-anak dari Cipurut. “Bagaimana mungkin, pikirnya, untuk marah kepada Adinda karena itu? Sebab meskipun ada kesalahan dalam pintalan talinya, dan meskipun Badur kalah dalam pertandingan melawan Cipurut karena kesalahan itu, dan bukan karena beling yang dilemparkan oleh si Jamin kecil yang bersembunyi di belakang pagar, malahan pun dalam hal itu, bolehkah aku bersikap keras terhadapnya, dan menyebutnya dengan nama-nama yang tak pantas? Bagaimana kalau aku mati di Betawi tanpa meminta maaf atas kekasaran seperti itu? Bukankah aku seperti manusia durjana yang memaki-maki seorang gadis? Dan tidakkah, apabila orang mendengar bahwa aku mati di negeri asing, tiap orang di Badur mengatakan: “syukurlah Saijah mat, sebab ia kurang ajar kepada Adinda?”

Demikianlah jalan pikirannya, lain sekali dari ketika ia dalam keadaan kesal tempohari; pikirannya itu dengan tidak setahunya mencari jalan ke luar, mula-mula dengan kata-kata tak lengkap digumam, kemudan dengan kata-kata kepada diri sendiri, dan kemudian menjadi nyanyian sedih dan pilu yang saya turunkan di sini terjemahannya. Mula-mula saya hendak memasukkan mantra dan rima dalam terjemahan itu, tapi seperti Haelaar, sayapun merasa lebih baik jangan mengikat diri kepada kerangka yang kaku itu.

Aku tak tahu di mana aku akan mati
Aku melihat samudera luas di pantai selatan ketika datang
Ke sana dengan ayahku, untuk membuat garam ;

Bila ku mati di tengah lautan, dan tubuhku dilempar ke air dalam,
Ikan hiu berebutan datang ;
Berenang mengelilingi mayatku, dan bertanya : “siapa antara kita
akan melulur tubuh yang turun nun di dalam air ?”-
Aku tak akan mendengarnya.

Aku tak tahu di mana aku akan mati
Kulihat terbakar rumah Pak Ansu, dibakarnya sendiri karena
ia mata gelap ;

Bila ku mati dalam rumah sedang terbakar, kepingan-kepingan
kayu berpijar jatuh menimpa mayatku ;
Dan di luar rumah orang-orang berteriak melemparkan air pemadam api ; -
Aku takkan mendengarnya.

Aku tak tahu dimana aku kan mati
Kulihat Si Unah kecil jatuh dari pohon kelapa, waktu memetik
kelapa untuk ibunya ;
Bila aku jatuh dari pohon kelapa, mayatku terkapar di kakinya,
di dalam semak, seperti Si Unah ;

Maka ibuku tidak kan menangis, sebab ia sudah tiada. Tapi
orang lain akan berseru : “Lihat Saijah di sana !”
Aku takkan mendengarnya.

Aku tak tahu di mana aku kan mati
Kulihat mayat Pak Lisu, yang mati karena tuanya, sebab rambutnya
sudah putih ;

Bila aku mati karena tua, berambut putih, perempuan meratap
sekeliling mayatku ;
Dan mereka akan menangis keras-keras, seperti perempuan-perempuan menangisi mayat pak lisu ; dan juga cucu-cucunya akan menangis, keras sekali ; -
Aku takkan mendengarnya.

Aku tak tahu di mana aku kan mati.
Banyak orang mati kulihat di badur. Mereka dikafani, dan ditanam di dalam tanah ;
Bila aku mati di badur, dan aku ditanam di luar desa, arah ke timur di kaki bukit dengan rumputnya yang tinggi ;

Maka adinda akan lewat di sana, tepi sarungnya perlahan mengingsut mendesir rumput, …….

Aku akan mendengarnya..

Saijah tiba di Betawi. Ia meminta pekerjaan pada seorang tuang, dan tuan itu segera menerimanya karena ia tidak mengerti Saijah, dan di Betawi orang suka menerima bujang yang belum pandai bahasa Melayu, jadi belum rusak seperti yang lain yang sudah lebih lama bergaul dengan orang Eropah. Saijah cepat belajar bahasa Melayu, tapi ia selalu baik dan berhati-hati, sebab ia senantiasa teringat kepada dua ekor kerbau yang akan dibelinya, dan kepada Adinda. Tubuhnya menjadi besar dan kuat, sebab ia makan setiap hari, hal mana tidak selalu bisa dilakukannya di Badur. Di kandang kuda ia disukai, dan pastilah ia tidak akan ditolak jika melamar anak gadis pak kusir. Tiannya sendiri senang sekali kepada Saijah, sehingga ia cepat diangkat jadi jongos. Gajinya dinaikkan, dan selain itu ia selalu mendapat hadiah karena pekerjaannya yang sangat memuaskan. Nyonya pernah membaca roman Sue yang sangat menghebohkan sebentar, … ia selalu teringat pangeran Jalma apabila ia melihat Saijah, dan juga anak-anak gadisnya lebih mengerti dari dahulu bagaimana pelukis bangsa Jawa Raden Saleh mendapat pujian yang tinggi di Paris.

Tapi mereka menganggap Saijah tidak tahu berterima kasih ketika ia sesudah hampir tiga tahun bekerja, minta berhenti dan meminta surat eterangan bahwa ia selalu berkelakuan baik. Tapi mereka meluluskan juga permintaannya itu, dan Saijah memulai perjalanannya dengan hati yang girang.

Di berjalan melewati Pesing, di mana Havelaar pernah tinggal, dahulu sekali. Tapi Saijah tidak mengetahui hal ini; … dan sekalipun ia mengetahuinya, ada hal-hal lain yang dipikirkannya… Ia menghitung-hitung harta bendanya yang dibawakannya… Ia menghiung-hitung harta bendanya yang dibawanya pulang. Di dalam tabung bambu disimpannya surat jalannya dan surat keterangan berkelakuan baik. Di dalam sebuah bumbung yang diikat dengan tali kulit, Nampak sesuatu yang berat selalu bergoyang-goyang mengenai bahunya, tapi ia senang merasakannya,… percayalah! … di dalamnya ada sejumlah tiga puluh mata wang Spanyol, cukup untuk membeli tiga ekor kerbau! Apa kata Adinda! Dan ini belum semuanya lagi. Dipunggungnya nampak keris yang ditaruhnya diikat pinggang, sarungnya bersalut perak. Gagangnya tentulah dari kemuning yang diukir halus, sebab benda itu dengan hati-hati dibungkusnya dengan kain sutera. Dan banyak lagi harta kekayaannya! Di dalam ikatan kain di pinggangnya, disimpannya sebuah ikat pinggang rantai dari perak, pendingnya dari emas. Memang ikat pinggang itu agak pendek, tapi dia begitu ramping, … Adinda.

Dan pada tali di lehernya, di bawah baju luarnya, tergantung sebuah kocek sutera, dengan beberapa kembang melati yang sudah kering.

Tidaklah mengherankan bila di Tangerang ia berhenti seperlunya saja untuk mengunjungi kenalan ayahnya yang begitu pandai menganyam topi yang bagus. Tidaklah mengherankan bila ia seperlunya saja menjawab gadis-gadis yang bertemu olehnya di jalan, yang bertanya: “ke mana? Dari mana?”, tegor sapa yang lazim di daerah itu. TIdaklah mengherankan bila ia menganggap Serang tidak begitu indah lagi, ia yang telah mengenal Betawi. Ia tidak lagi bersembunyi di belakang pagar, seperti dilakukannya tiga tahun yang lalu, ketika ia melihat tuan residen naik kereta, ia yang telah melihat tuan yang lebih besar yang tinggal di Bogor dan enjadi datuk Susuhunan-susuhunan di Solo. Tidaklah mengherankan bila ia tidak memperhatikan cerita-cerita orang yang berjalan beberapa jauh bersamanya dan berbicara tentang berita di Banten Kidul : - “bahwa penanaman kopi dibatalkan sama sekali sesudah banyak kepala distrik Parangkujang karena merampas di jalan umum dijatuhi hukuman tahanan empat belas hari d rumah mertuanya ; - betapa ibukota telah dipindahkan ke Rangkas-Betung ; - betapa telah datang di sana seorang asisten residen baru, sebab yang sebelumnya telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu ; - betapa pejabat baru itu telah berbicara pada rapat sebah yang pertama ; - betapa sudah beberapa waktu tidak ada orang yang dihukum karena pengaduan ; - betapa hidup harapan dikalangan rakyat supaya barang yang dicuri dikembalikan atau dibayarkan ganti kerugiannya.”

Tidak, di mata semangatnya nampak gambaran-gambaran yang lebih indah. Dicarinya pohon ketapang di awan gemawan, terlalu jauh masih ia untuk mencarinya di Badur. Ia memeluk udara sekitarnya, seolah-olah ia hendak merangkul tubuh yang akan menunggunya di bawah pohon itu. Dibayangkannya wajah Adinda, kepalanya, bahunya ; dilihatnya kondenya yang besar, hitam gemerlap, terperangkap dalam jeratnya sendiri, bergantung pada lehernya ; dilihatnya matanya yang besar berkilau dalam pantulan yang hitam ; cuping gidungnya yang diangkatnya dengan perkasa sebagai anak kecil, ketika ia, - betapa mungkin! – mengganggunya, dan sudut bibirnya yang menyimpan senyumnya ; dilihatnya buah dadanya yang kini tentunya menonjol di bawah kebayanya ; dilihatnya betapa sarung yang ditenunnya sendiri, memeluk ketat pinggangnya dan, mengikuti lengkungan pahanya, turun melalui lututnya mengalun indah di atas kakinya alit…

Tidak, ia tidak banyak mendengar apa yang dikatakan orang kepadanya. Yang didengarnya ialah nada-nada yang lain ; didengarnya bagaimana Adinda akan berkata : “Selamat dating, Saijah! Aku teringat kepadamu waktu memintal dan wakt menenun, dan waktu menumbuk padi dalam lesung yang bergaris tiga kali dua belas garis buatan tanganku. Ini aku di bawah ketapang, hari pertama bulan yang baru. Selamat dating, Saijah, aku mau jadi isterimu.”

Itulah music yang bergema di telinganya, sehingga ia tidak mendengar segala berita yang disampaikan orang dalam perjalannya.


Akhirnya nampak olehnya pohon ketapang. Atau lebih tepat, dilihatnya suatu tempat yang besar dan gelap yang menutup bintang-bintang banyak dari pemandangannya. Itu mesitnya hutan jati dekat pohon di mana ia akan bertemu dengan Adinda keesokan harinya sesudah terbitnya matahari. Ia mencari dalam gelap dan meraba-raba banyak batang pohon. Tidak lama kemudian ia menemukan sebatang pohon, pada kulitnya sebelah Selatan ada bekas tetakan yang dikenalnya ; diletakkannya jarinya dalam alut yang dibuat oleh Si Panteh dahulu dengan parangnya untuk menyerapahi pontianak yang menybabkan ibunya sakit gigi, tidak lama sebelum adik Si Panteh lahir. Itulah ketapang yang dicarinya.

Ya, inilah tempat di mana ia buat pertama kali memandangi Adinda dengan cara lain dari teman sepermainannya yang lain, sebab Adinda buat pertama kali di tempat itu menolah turut serta dalam suatu permainan, yang sebenarnya, tidak lama sebelumnya diikutinya dengan semua anak-anak, - laki-laki dan perempuan. Di situlah Adinda memberinya kembang melati.

Ia duduk di kaki pohon itu, dan memandang ke atas, ke bintang-bintang, dan bila ada yang beralih, dianggapnya itu sebagai ucapan selamatdatang bahwa ia telah kembali di Badur.

Dan ia berpikirr apakah sekarang Adinda sedang tidur, dan apakah ia tidak salah menandai bulan pada lesungnya? Saijah akan berdukacita, jika Adinda sampai kelupaan menandai sebulan, seolah-olah tidak cukup… jumlah tiga puluh enam bulan! Dan apakah ia membatik sarung dan selendang yang kini tinggal di rumah ayahnya? Dan terbayng masa mudanya, dan ibunya, dan betapa kerbau itu menyelamatkannya dari terkaman harimau, dan terpikir olehnya apa akan jadinya dengan Adinda jika kerbau itu tidak begitu setia?

Diperhatikannya benar turunnya bintang-bintang di Barat dan setiap kali sebuah bintang menghilang di kaki langit, ia menghitung bahwa matahari sudah lebih dekat lagi sedikit mendekati saat terbitnya di ufuk Timur, dan betapa tambah dekat ia sendiri kepada saat bertemu kembali dengan Adinda.

Sebab pastilah ia akan kembali pada cahaya matahari yang pertama, ya, dia sudah akan ada di sana ketika fajar, … ah, mengapa ia tidak datang kemarin?

Saijah merasa sedih bahwa Adinda tidak mendahului saat yang indah yang tiga tahun lamanya menyuluhi jiwanya dengan cahaya yang tidak terlukiskan ; dalam cintanya Saijah hanya ingat akan kepentingan dirinya, dan ia menjadi tidak adil ; menurut dia seharusnya Adinda sudah berada di sana, menunggu da, dia yang kini mengeluh, - sebelum waktunya, - bahwa ia harus menunggu Adinda!

Dan tidak sepatutnya ia mengeluh, sebab matahari belum lagi terbit, … belum lagi matahari melepaskan pandangnya ke atas dataran. Memang bintang-bintang nun di atas menjadi pucat, malu bahwa segera berakhir kekuasaannya ; memang mengalir warna-warna yang garib di puncak-puncak gunung, yang nampak lebih gelap semakin tajam timbul sosoknya berlatar-belakang cahaya terang ; memang di sana sini sesuatu yang berpijar melayang melintasi awan di sebelah Timur, - panah-panah emas dan api yang ditembakkan bolak-balik, sejajar dengan kaki langit, - tapi menghilang lagi dan nampaknya jatuh di belakang tirai yang penuh rahasia, tirai yang menjauhkan siang dari pandangan mata Saijah.

Namun cuaca makin terang dan makin terang sekitarnya, … sudah dilihatnya tamasya alam, dan sudah dapat dibedakannya Gombak gugus kelapa di mana Badur tersembunyi dari pandangan mata, … di situlah Adinda terbaring tidur.

Tidak, dia tidak tidur lagi ; bagaimana mungkin ia tidur? … Tidakkah ia tahu bahwa Saijah akan menantinya? … Dia tidak tidur semalam-malaman ; pasti jaga kampong mengetuk pintunya dan menanyakan mengapa pelita masih menyala dalam rumahnya, dan dengan tersenyum manis ia menjawab bahwa ia tak dapat tidur karena berjanji akan menyelesaikan selendang yang sedang ditenunnya ; selendang itu harus selesai sebelum hari pertama bulan baru …

Atau malam itu ia bergadang di tempat gelap, duduk di atas lesung, dan menghitung dengan jari dan hati mendamba sudahkah sungguh-sungguh berderet tiga puluh enam garis yang dalam. Dan hatinya gembira terkejut dalam kecekatannya jangan-jangan ia salah hitung, jangan-jangan masih kurang satu, dan sekali lagi dan sekali lagi, dan setiap kali a menikmati kepastian yang menyenangkan bahwa sungguh-sungguh telah lewat tiga kali dua belas bulan sejak ia berpisah dengan Saijah…

Diapun tentunya sekarang ini, sesudah cuaca seterang ini, memasang matanya sia-sia, melemparkan pandangnya ke balik tepi langit, untuk menemui matahari, matahari yang lamban, yang tidak juga terbit, …  tidak juga terbit …

Nampak garis merah kebiru-biruan yang berpaut pada awan, dan tepi-tepi awan itu menjadi terang dan berpijar, dan mulai berkilat ; dan kembali melayang panah-panah api di ruang angkasa, tapi sekali ini tidak jatuh ke bawah ; mereka menjerait di tanah yang gelap, bahangnya meluas dalam lingkaran yang tambah lama tambah luas, dan saling bertemu, silang menyilang, memutar, eredar, dan bersatu menjadi berkas-berkas api dan berkila dengan cahaya keemasan di atas tanah biru muda, … semuanya itu warnanya merah, dan biru, dan keperak-perakan, dan lembayung dan kuning, dan keemasan, … ya Tuhan, itulah fajar, itulah pertemuan kembali dengan Adinda! …

Saijah tidak pernah belajar mendoa, dan memang sayang kalau itu diajarkan kepadanya ; sebab doa yang lebih suci dan syukur yang lebih membara dari yang mengendap diam dalam jiwanya gembira, tidak dapat diungkapkan dalam bahasa manusia.

Ia tidak mau pergi ke Badur. Saat pertemuan itu sendiri dengan Adinda dirasanya tidak begitu indah seperti kepastian bahwa ia akan bertemu dengannya. Ia duduk di bawah pohon ketapang dan diedarkannya pandangnya sekitar wilajah. Alam seolah tersenyum kepadanya, dan mengucapkan selamat datang seperti seorang ibu menyambut anaknya yang baru pulang ; dan seperti juga si ibu melukiskan kegembiraannya dengan menimbulkan sendiri kenang-kenangan kepada dukacita yang lampau, pada waktu menunjukkan apa yang disimpannya sebagai tanda mata selama kepergian anaknya, Saijah pun menggembirakan hati dengan melihat kembali sekian banyak tempat-tempat yang menjadi saksi kehidupannya yang singkat. Tapi betapapun matanya ataupun pikirannya menggembara, setiap kali pandangnya dan hasratnya kembali ke jalan yang menghubungkan Badur dengan pohon ketapang itu. Segala yang dirasakan dan dilihat oleh pancainderanya bernama Adinda …. Dilihatnya jurang sebelah kiri dengan tanah yang begitu kuning, di mana pernah seekor kerbau yang masih muda jatuh ke dalam lubang; orang kampong berkumpul di situ untuk menolong binatang itu, - sebab bukan perkara kecil kehilangan seekor kerbau muda, - mereka turun dengan tali rotan yang kuat, dan ayah Adinda adalah yang paling berani, … o, betapa keras ia bertepuk tangan … Adinda!

Dan nun di sana di sebalik gugusan pohon kelapa yang daunnya melambai-lambai di atas pondok-pondok desa, di salah satu tempat itu Si Unah jatuh dari pohon dan mati. Alangkah sedih ibunya menangis ; “sebab Si Unah masih begitu kecil”, ratapnya… seolah-olah ia tidak akan begitu sedih sekiranya Si Unah sudah lebih besar. Tapi ia keicl, memang benar, sebab ia leih kecil dan lebih lemah dari Adinda…

Tidak nampak seorangpun di jalan yang menghubungkan Badur dengan pohon itu. Nanti ia datang ; …hari masih terlalu pagi.

Saijah melihat bajing yang melompat kian kemari dengan cepat dan keracak pada batang pohon kelapa. Binatang yang molek itu, - ditakuti oleh pemilik kelapa, namun molek tubuh dan gerak-geriknya, - naik dan turun tak jemu-jemunya. Saijah melihatnya, dan dipaksanya dirinya untuk terus melihatnya, sebab dengan demikian pikirannya menjadi tenang, sesudah berat bekerja sejak matahari terbit, - tenang sesudah letih menunggu. Tidak lama kemudian kesan-kesannya menyatakan diri dalam kata-kata, dan iapun menyanyikan apa yang bergolak dalam jiwanya. Saya lebih suka membacakan nyanyian dalam bahasa Melayu, bahasa Itali di Timur itu.

Lihatlah betapa bajing mencari makan
Di pohon kelapa. Ia naik, ia turun, ia mengeracak kiri dan kanan
Ia berlari (mengitari pohon), melompat, jatuh, memanjat dan jatuh lagi
Sayap ia tak punya namun ia cergas seperti burung.

Selamatlah bajingku, selamatlah
Pasti kau menemukan makan yang kau cari…
Tapi aku seorang diri duduk di hutan jati
Menunggu makanan bagi hatiku.

Sudah lama bajingku kenyang
Sudah lama ia kembali ke sarang
Tapi masih juga jiwaku
Dan hatiku sangan berdukacita… Adinda!

Belum juga ada orang di jalan yang menghubungkan Badur dengan pohon ketapang…
Maka Saijah terpandang rama-rama yang agaknya bergembira karena hari mulai panas…

Lihatlah nun rama-rama keliling mengepak sayak
Sayapnya berkilau laksana kembang aneka warna
Hatinya cinta berahikan bunga kenari
Pastilah ia mencari, mencari kekasih yang harum wangi.

Selamatlah ramaku, selamatlah
Pastilah kau menemu apa dicari
Tapi aku duduk seorang diri di hutan jati
Menunggu kekasih idaman hati

Sudah lama-lama mengecup
Kembang kenari yang sangat ia cintai
Tapi masih jiwaku
Dan hatiku alangkah berdukacita… Adinda!

Dan belum ada juga orang di jalan yang menghubungkan Badur dengan pohon ketapang.
Matahari sudah meninggi ; - udara sudah panas.

Lihatlah betapa matahari bersinar nun di atas
Jauh di atas bukit Waringi
Terlalu panas ia merasa dan ingin turun ke bumi
Tidur di dasar laut seperti rangkulan seorang suami

Selamatlah o matahari, selamatlah
Pasti kau menemu apa dicari
Tapi aku seorang diri di hutan jati
Menunggu hatiku menjadi tenang.

Sudah lama nanti matahari turun
Dan tidur di dalam laut, jika segala telah kelam
Tapi masih jiwaku
Dan hatiku alangkah berdukacita… Adinda

Dan tidak ada orang di jalan yang menghubungkan Badur dengan pohon ketapang.

Jika tiada lagi rama-rama terbang keliling mengepak sayap
Jika bintang tiada lagi berkilauan
Jika tiada lagi hati berduka
Tiada lagi binatang liar di dalam hutan
Jika matahari kesasar jalan
Dan bulan lupa mana Timur mana Barat
Jika waktu itu belum juga datang Adinda
Maka turunlah malaikat dengan sayap kemilau
Ke atas bumi mencari apa yang tinggal
Maka mayatku terkapar di sini di bawah ketapang
Jiwaku alangkah berdukacita… Adinda!

Tidak ada orang di jalan yang menghubungkan Badur dengan pohon ketapang.

Maka malaikat melihat mayatku
Diberitahunya saudara-saudaranya, ditunjuknya mayatku dengan jarinya
“Lihatlah, nun di sana ada seorang manusia mati terlupa
Mulutnya kejang mencium kembang melati
Marilah, kita angkat dia kita bawa ke surge
Orang yang menunggu Adinda sampai mati
Sungguh, ia tak boleh tinggal sendiri
Orang yang hatinya begitu keras mencinta”

Maka sekali lagi mulutku kejang akan membuka
Untuk memanggil Adinda yang kucinta
Sekali lagi kukecup melati
Yang dia berikan… Adinda… Adinda!

Dan masih jiga tidak ada orang di jalan yang menghubungkan Badur dengan ketapang.

O, pastilah ia tertidur menjelang pagi, kelelahan karena bergadang sepanjang malam, karena bergadang bermalam-malam terus menerus, … ia tidak tidur sudah berminggu-minggu, … demikian adanya!

Apakah ia akan berdiri dan berjalan ke Badur? … Tidak, jika demikian seolah-olah ia ragukan kedatangannya…

Bagaimana kalau dipanggilanya orang di sana yang menggiring kerbaunya ke ladang? … Orang itu terlalu jauh, dan lagi, Saijah tidak mau bicara tentang Adinda, tidak mau menanyakan tentang Adinda, … ia mau bertemu dengannya, melihatnya kembali, ia ingin melihat Adinda sendiri, melihat Adinda lebih dulu. O, tentu, tentulah ia segera datang.

Ia akan menunggu, menunggu…

Tapi kalau dia sakit, atau … mati?


Seperti rusa kena panah Saijah berlari melalui jalan dari pohon ketapang menuju desa tempat Adinda tinggal. Dia tidak melihat apa-apa dan tidak mendengar apa-apa, meskipun ia dapat mendengar apa-apa, sebab ada orang berdiri di pinggir jalan dekat pintu masuk ke dalam desa yang berteriak : “Saijah, Saijah!”

Tapi, … apakah karena ia tergesa-gesa, karena nafsunya, maka ia tak dapat menemukan rumah Adinda? Ia sudah berlari sampai ke ujung jalan di batas kampong, dan seperti gila ia berjalan kembali dan memukul-mukul kepalanya, betapa mungkin ia melewati rumah Adinda tanpa melihatnya. Tapi kembali ia berdiri di pintu gerbang masuk, … ya Tuhan, apakah ia bermimpi? … sekali lagi ia tidak menemukan rumah Adinda. Sekali lagi ia berlari kembali dan tiba-tiba ia berhenti, dipegangnya kepalanya dengan kedua tangannya seolah-olah hendak memeras ke luar pikiran tak waras yang merasukinya, dan ia berteriak keras-keras; “mabuk, mabuk, aku mabuk!”

Dan perempuan-perempuan Badur ke luar dari rumahnya, dan dengan kasihan melihat Saijah berdiri di jalan ; sebab mereka mengenalinya dan mereka tahu bahwa ia mencari rumah Adinda, dan mereka tahu tidak ada rumah Adinda di desa Badur.

Sebab ketika kepala distrik Parangkujang merampas kerbau-kerbau ayah Adinda…

Sudah saya katakan, pembaca budiman, bahwa cerita saya menjemukan.

…ketika itu bu Adinda meninggal karena sedihnya, dan adiknya yang bungsu meninggal karena tidak ada ibu yang menyusuinya. Dan ayah Adinda yang ketakutan mendapat hukuman jika tidak membayar pajak tanah…

Saya tahu, saya tahu bahwa cerita saja menjemukan.

…ia pergi meninggalkan kampong halaman. Dibawanya Adinda dengan saudara-saudaranya. Tapi ia mendengar betapa ayah Saijah dihukum di Bogor dengan deraan rotan, karena meninggalkan Badur tanpa surat jalan. Karena itulah ayah Adinda tidak pergi menuju Bogor, tidak ke Krawang, tidak ke Priangan, tidak pula ke Betawi…

Ia pergi ke Cilangkahan, distrik Lebak yang berbatasan dengan laut, di sanalah ia bersembunyi di dalam hutan, dan menunggu kedatangan Pak Ento, Pak Lontah, Si Uniah, Pak Ansiu, Abdul Isma dan beberapa orang lagi yang kerbaunya dirampas oleh kepala distrik Parangkujang, dan yang semuanya takut kena hukuman jika mereka tidak membayar pajak tanah.

Di sana pada malam hari mereka mencuri sebuah perahu nelayan dan berlayar meninggalkan pantai. Mereka menuju ke Baratlaut, pantai di sebelah kanannya, sampai ke Tanjung Jawa di Ujung Kulon ; dari sana mereka berlayar menuju ke Utara sampai Panaitan yang disebut pelaut kulit putih Prinseneiland. Mereka mengitari pulau itu di sebelah Timur dan kemudian menuju Teluk Semangka, menghala puncak gunung yang tinggi di Lampung.

Demikianlah jalan yang dibisikkan orang dari mulut ke mulut di Lebak, jalan yang ditempuh bila orang bicara tentang perampasan erbau dan pajak tanah yang belum dibayar.

Tapi Saijah tidak mengerti benar apa yang dikatakan orang kepadanya, malahan ia tidak mengerti benar berita tentang kematian ayahnya. Telinganya mendengung seolah-olah dipukul gongdalam kepalanya, dirasanya betapa darah mendenyut-denyut dalam urat-urat pelipisnya yang serasa-rasa hendak pecah di bawah tekanan pemekaran yang begitu berat. Ia tidak berkata-kata dan memandang keliling dengan mata kehilangan cahaya, tidak melihat apa yang ada sekitarnya dan dekatnya, dan akhirnya ia meledak dalam tawa yang mengerikan.

Seorang perempuan tua membawanya ke rumahnya dan mengobati orang gila yang malang itu. Tidak lama kemudian ia tidak lagi tertawa begitu mengerikan, namun ia tidak bicara. Hanya malam hari orang-orang sepondok terkejut oleh suaranya bila ia menyanyi tanpa nada : “tidak ku tahu di mana aku kan mati”, dan beberapa orang penduduk Badur mengumpulkan uang untuk memberi sajen kepada buaya-buaya di CIujung, supaya Saijah menjadi sembuh, Saijah yang dianggap gila. Tapi ia tidak gila.

Sebab sekali malam hari ketika bulan bersinar cerah ia berdiri dari bale-balenya dan perlahan-lahan meninggalkan rumah dan mencari tempat di mana pernah Adinda berdiam. Ini bukan pekerjaan yang mudah sebab banyak rumah yang telah roboh, tapi nampaknya ia mengenali tempat itu pada besarnya sudut yang dibuat oleh beberapa garis melalui pohonan pada waktu bertemu dalam matanya, seperti seorang pelaut menentukan posisi pada menara api atau pada tempat-tempat yang menjulur di gunung.

Ya, di situlah mestinya rumahnya… di situ pernah Adinda tinggal!

Tersaruk-saruk pada bambu setengah lapuk dan kepingan-kepingan atap yang runtuh ia mencari jalan ke tempat keramat yang dicarinya. Dan, sungguh, ia masih menemukan kembali sebagian dari pagar yang masih berdiri, di samping pagar itulah lalu berada bale-bale Adinda ; bahkan di pagar itu masih terpancang pasak bambu tempat menggantungkan pakaiannya bila hendak tidur…

Tapi, bale-bale itu telah runtuh seperti juga rumah itu dan hampir kembali menjadi debu. Diambilnya segenggam debu, dan didekatkannya kebibirnya yang terbuka, dna ia menarik nafas dalam-dalam…

Keesokan harinya ia bertanya pada orang tua yang merawatnya, di manakah lesung yang dulu terletak di pekarangan rumah Adinda. Perempuan itu girang mendengar ia bicara dan berjalan sekeliling desa untuk mencari lesung itu. Ketika ia menemukan pemiliknya yang baru dan hendak menunjukkannya kepada Saijah, Saijah mengikutinya tanpa berkata sepatah kata, dan ketika tiba di lesung itu, dihitungnya ada tiga puluh dua garis tergores di situ…

Lalu diberinya perempuan itu sekian mata wang Spanyol, cukup untuk membeli seekor kerbau, dan meninggalkan Badur. Di Cilangkahan dibelinya sebuah perahu nelayan, dan dengan perahu itu sesudah beberapa hari berlayar ia tiba di Lampung, di mana pemberontak sedang melawan kekuasaan Belanda. Ia bergabung dengan segerombolan orang Banten, bukan untuk berempur tapi untuk mencari Adinda ; sebab sifatnya lembut, dan lebih mudah terharu oleh kesedihan dari tergugah oleh kepahitan.

Pada suatu hari ketika pemberontak-pemberontak sekali lagi dikalahkan, ia mengembara di dalam desa yang baru saja direbut oleh tentara Belanda, jadi masih terbakar. Saijah tahu bahwa gerombolan yang dihancurkan di tempat itu, sebagian besar terdiri dari orang Banten ; ia berkeliling seperti hantu di rumah-rumah yang belum terbakar seluruhnya, dan menemukan mayat ayah Adinda dengan luka kena kelewang di dada. Di sampingnya Saijah melihat ketiga saudara Adinda yang terbunuh, pemuda-pemuda, anak-anak masih ; dan sedikit lagi ke sana nampak mayat Adinda, telanjang, teraniaya dengan cara mengerikan…

Ada sepotong kecil kain biru masuk ke dalam luka yang terbuka di dadanya, yang rupanya mengakhiri pergulatan yang lama…

Lalu Saijah menyongsong beberapa orang soldadu yang dengan bedil terkokang menghalau sisa-sisa pemberontak yang masih hidup ke dalam api rumah-rumah yang sedang terbakar ; ia mendekap bayonet-bayonet pedang yang lebar itu, mendorong ke depan dengan penuh tenaga, dan masih berhasil mendesak kembali soldadu-soldadu itu dengan tenaga yang penghabisan, ketika gagang-gagang bayonet tertumbuk pada dadanya.

Dan tidak lama kemudian orang bersorak-sorak di Betawi atas kemenangan yang baru itu, yang menambahkan pula banyak kemenangan pada kemenangan-kemenangan tentara Hindia Belanda. Dan wali negeri pun menulis bahwa keamanan telah dipulihkan kembali di Lampung, dan raja Belanda, yang diberi penerangan oleh pejabat-pejabat negara, kembali memberi anugerah ata keberanian dan kepahlawanan yang begitu besar berupa sejumlah banyak bintang kehormatan.

Dan agaknya doa syukur naik ke langit dari hati orang-orang yang saleh di gereja hari Minggu atau waktu sembahyang, ketika mendengar bahwa “Tuhan segala balatentara” telah ikut pula berperang di bawah panji-panji Belanda…

“Tapi Tuhan, hiba melihat mala petaka demikian, - Hari itu menolak korban persembahan!” (Tollens)